“What Happened to Monday” adalah sebuah film fiksi ilmiah
dystopia yang dirilis pada tahun 2017, disutradarai oleh Tommy Wirkola. Film ini menyajikan sebuah dunia di mana kebijakan satu anak diterapkan dengan sangat ekstrem, dan ketatnya pengawasan pemerintah terhadap populasi menjadikan setiap kelahiran anak sebuah ancaman. Dalam dunia semacam itu, satu keluarga harus berjuang untuk bertahan hidup, dengan beragam rahasia yang mereka simpan. Berikut ini adalah analisis lebih mendalam mengenai tema, plot, dan pesan yang terdapat dalam film ini.
Sinopsis: Dunia yang Dikendalikan oleh Pemerintah
Film ini berlatar di masa depan di mana overpopulasi menjadi isu yang sangat serius. Pemerintah mengambil keputusan untuk menerapkan kebijakan yang dinamakan “The Child Allocation,” yang membatasi setiap keluarga hanya dapat memiliki satu anak. Dalam kebijakan ini, setiap anak yang lahir di luar yang telah disetujui akan dibekukan dalam sebuah wadah dan disimpan di bawah pengawasan pemerintah.
Film ini menyoroti tujuh saudara perempuan yang lahir dari satu ibu dan dibesarkan secara tersembunyi dalam sebuah apartemen oleh kakek mereka (diperankan oleh Willem Dafoe). Untuk menghindari penangkapan oleh pemerintah, mereka hidup dengan identitas yang berbeda dan hanya muncul satu per satu sesuai dengan hari dalam seminggu. Setiap hari, seorang saudara perempuan yang berbeda akan keluar dengan identitas yang sesuai dengan namanya — Monday, Tuesday, Wednesday, dan seterusnya — untuk menghindari terungkapnya identitas mereka yang sesungguhnya.
Namun, masalah muncul ketika Monday, sang kakak, menghilang tanpa jejak setelah menjalani sebuah tugas penting di luar. Tujuh saudara perempuan ini kemudian harus menghadapi konspirasi besar yang melibatkan pemerintahan dan perusahaan-perusahaan besar. Mereka wajib mencari tahu apa yang terjadi pada Monday dan mengungkap kebohongan yang tersembunyi di balik kebijakan yang mengancam hidup mereka.
Tema dan Pesan yang Terkandung dalam Film
Kebebasan Individu dan Pengendalian Pemerintah
Salah satu tema utama dalam film ini adalah pertentangan antara kebebasan individu dan pengendalian pemerintah. Dalam dunia yang diperlihatkan oleh film ini, pemerintah memiliki kendali yang sangat besar atas hidup setiap individu, bahkan menentukan apakah seseorang diperbolehkan untuk memiliki anak atau tidak. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya mempertahankan kebebasan pribadi dan hak asasi manusia, serta risiko jika kebebasan tersebut dicabut dengan dalih yang dinyatakan dalam nama “kesejahteraan umum. ”
Identitas dan Keluarga
Film ini juga menekankan pentingnya identitas dan hubungan keluarga. Ketujuh saudara perempuan ini memiliki karakter dan kepribadian yang sangat berbeda, meskipun mereka lahir dari ibu yang sama. Walaupun terpaksa menjalani kehidupan yang penuh penindasan, mereka tetap berjuang untuk melindungi satu sama lain dan keluarga mereka. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan keluarga, bahkan dalam kondisi yang sangat menekan.
Konsekuensi dari Teknologi dan Kebijakan Ketat
Selain itu, film ini juga memperlihatkan potensi bahaya dari kebijakan yang terlalu ketat dan pengawasan yang berlebihan. Teknologi yang pada awalnya dimaksudkan untuk menjaga ketertiban, justru menjadi alat penindasan dan pengawasan yang tidak terbatas. Hal ini mengingatkan kita akan bahaya dystopia yang mungkin terjadi jika teknologi digunakan dengan cara yang salah, serta pentingnya pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.